Halaman

Total Quality Management

(The Islamic Point of View - Evaluasi untuk Diri sendiri)
Adalah konsep manajemen bisnis yang mulai berkembang di Indonesia sekitar tahun 1990an dan kemudian terus berkembang dengan masuknya pola-pola sertifikasi secara internasional. Adalah suatu konsep manajemen yang mengarahkan pada perubahan paradigma atau pola pandang dan pola pikir serta pola perilaku atau sikap yang melibatkan dan menggerakkan segala sumber daya ekonomis yang dimiliki perusahaan untuk menjadi berkualitas.


Konsep ini pada awalnya mulai dikembangkan di Amerika dan di Eropa, namun lebih berkembang pesat di Jepang, dikembangkan oleh ahli-ahli tehnik (Engineer) yang berlaku sebagai praktisi manajemen. Pada perkembangannya konsep Total Quality Management (TQM) atau Dijepang lebih dikenal dengan Total Quality Control (TQC) membuat seluruh perusahaan mengakui keistimewaan penerapannya. Melihat keunggulan beberapa perusahaan-perusahaan unggulan di Jepang dimulai oleh Toyota Corporation, di Amerika & Eropa dimulai oleh Astra Graphia, Harley Davidson, IBM corp. dll, yang menerapkan konsep-konsep ini, dengan berbagai perkembangan konsep lainnya sebagai pendukung keseluruhan TQM, yaitu Kaizen (Continuous Improvement), Just-In-Time Inventory (JIT), Benchmarking, dll, yang diikuti dengan berbagai perkembangan dalam berbagai disiplin seperti dalam Finance berkembang Balance Score Card, dalam Marketing berkembang Customer Relationship Management, Experiental Marketing, dll.
Konsep TQM, didasari dengan kesadaran pada Dimensi Kualitas, yaitu Kinerja (Performance), Keistimewaan Tambahan (Features), Kehandalan (Reliability), Kesesuaian dengan Spesifikasi (Conformance to Spesifications), Daya Tahan (Durability), Kemampuan Diperbaiki (Serviceablitiy), Estetika, Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality). Tujuan dan sekaligus penggerak TQM untuk dilaksanakan tidak lain adalah persaingan yang ketat (Global Competition), sehingga berusaha memuaskan pelanggannya agar pelanggan bertambah, terpelihara, terjaga, dan loyal (Customer Satisfaction à Customer Loyality).

Konsep ini dijalankan dengan menerapkan beberapa prinsip yaitu Fokus Pada Pelanggan, Obsesi Terhadap Kualitas, Pendekatan Ilmiah & Terukur, Komitment Jangka Panjang, Kerja sama Tim, Perbaikan Sistem berkesinambungan, Pendidikan & Pelatihan, Kebebasan Terkendali, Kesatuan Tujuan, Keterlibatan & Pemberdayaan Karyawan.

Konsep ini berpandangan pada Tahapan Penetapan dan pelaksanaan : Definisi Kualitas à Predictable, dapat diukur, sesuai dengan persyaratan dan kemampuan untuk digunakan, Tingkat Tanggung Jawab Manajemen, Standar Prestasi/Motivasi, Pendekatan Umum, Struktur, Pengendalian Proses (Statistical Process Control), Basis Perbaikan, Kerja sama Tim, Biaya Kualitas, perhatian pada Supplier, satu Sourcing of Supply yaitu Ya (Tidak Dapat Diabaikan).

Kupasan :
Islam yang merupakan agama yang diciptakan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam, pencipta langit dan bumi, dengan menetapkan Agama Islam adalah agamaKu, dan menetapkan Al Qur’an serta Al Hadits sebagai petunjuk bagi umatnya sampai akhir zaman.

Pertanyaannya adalah
Apakah kegiatan beragama terpisah dengan kegiatan profesi dan sosialisasi ?
Apakah Kualitas bukan milik Islam ?
Apakah Kualitas Produk & Jasa, Produktivitas Kerja, Kerja Sama Tim & Leadership serta Manajemen bukan milik Islam ?
Ataukan kegiatan beragama hanya merupakan ritual pelaksanaan kegiatan 5 Rukun Islam (Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji) ?
Apakah Kegiatan 6 Rukun Iman (Iman pada Allah, Iman pada Kitabullah, Iman Pada Malaikat, Iman pada Rasulullah, Iman Pada Hari Akhir dan Iman Pada Qadha & Qadar) hanya dilakukan pada kegiatan Rukun Islam yang 5 ?

Bismillahi Rohmanirrohiim,

Dalam Al Quranul Kariim, Allah menyatakan bahwa “Tiada lain Aku ciptakan Manusia dan Jin untuk beribadah padaKu”, bahwa sejak Akhil Baligh, kita diwajibkan untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan Allah bersumpah “Demi Waktu, … sesungguhnya manusia itu merugi”, Sunnah menyebutkan bahwa “Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin”, dalam ketiga pernyataan dari Al Qur’an dan Hadits tersebut terkandung hikmah bahwa terdapat proses evaluasi diri dari waktu ke waktu sepanjang masa hidup untuk senantiasa mendapatkan dan berbuat lebih baik dan lebih baik lagi dengan menerapkan konsep ibadah pada Allah”

Pernyataan Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin adalah mengandung makna spiritual yang berpengaruh pada kegiatan kita secara menyeluruh yaitu agar mengarahkan pada Ibadah pada Allah. Bila kita simak berapa banyak ibadah ritual yang biasa dilakukan dalam rangka melakukan Rukun Islam, Shalat wajib 5 kali dengan durasi beberapa menit satu kalinya, kemudian, Syahadat umumnya dalam Shalat saja, Zakat bagi yang mampu beberapa kali dalam setahun, Puasa bagi yang mampu, sekali dalam setahun yang wajibnya, Haji wajib bagi yang mampu satu kali seumur hidup. Lalu sisa waktunya adalah dilakukan untuk kegiatan-kegiatan yang lainnya termasuk yang paling menyita waktu adalah kegiatan bisnis dan profesi, dengan diingatkan pada Surat Luqman, “bahwa …Janganlah engkau melalaikan Shalat dengan Perniagaan…”

Lalu makna dari “Tiada lain Aku ciptakan Manusia dan Jin untuk beribadah padaKu”, memberikan hikmah sekaligus peringatan pada kita bahwa apakah kita selama ini melakukan profesi dan kegiatan bisnis yang sebagian besarnya adalah menghabiskan waktu kita memang benar-benar untuk ibadah pada Allah ?, dan apakah tidak ada ayat-ayat al Qur’an atau Hadits yang mengandung pernyataan atau tuntunan dalam melakukan profesi dan bisnis?

Allah yang maha Luas lagi Maha Kaya serta Maha Berilmu dan menguasai seluruh Ilmu, memberikannya semua dalam Al Qur’an dan As sunnah,

“Konteks intinya adalah bahwa mulailah dengan NIAT Lillahi Ta’Ala, dengan Basmallah, Lakukan sebaik-baiknya, dan akhiri dengan Al Hamdulillah” agar semuanya senantiasa menjadi Ibadah pada Allah semata.

Konteks:

“Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin”

Kandungan1 :

Adalah mengandung beberapa ukuran pada kita, yang pertama mengenai ukuran “Orang Yang beruntung”, yang kedua ukuran “waktu” yaitu hari ini dan hari kemarin, yang ketiga adalah ukuran “Lebih Baik” , dengan demikian mengajarkan pada kita untuk melakukan proses perhitungan dengan ukuran-ukuran tertentu dengan jenis ukuran yang berbeda-beda. Orang yang beruntung adalah target ukuran kualitas seseorang yang harus dicapai, dengan menjadi “lebih baik” yang merupakan ukuran luas dalam segala hal dan melalui proses pengukuran serta membandingkan antara hari ini dengan hari kemarin. Dan bila dilihat pemaknaan ini adalah sesuatu yang bersifat luas dan menyeluruh, dalam berbagai bidang.

Ajaran Allah mengenai Kualitas, diawali dengan diri sendiri dengan proses evaluasi diri, dengan target menjadi orang yang beruntung dihadapan Allah, dan dihadapan mahlukNya. Subhanallah. Bentuk-bentuk pengukuran adalah diajarkan dalam kondisi yang sangat luas, dan pola perhitungan statistik maupun pengukuran lain hanyalah bagian kecil dari ajaran Islami.

Proses Control dicerminkan dengan proses mengukur diri atau evaluasi diri apakah lebih baik atau tidak, sehingga terdapat keuntungan atau kerugian, proses ini diimplementasikan dalam bisnis dengan adanya Profit & Loss Statement atau laporan Laba Rugi sebagai produk akhir dari pengukuran kinerja kegiatan yang dilalui melalui berbagai proses pengukurannya.

Kalimat di atas adalah diimplementasikan dalam konsepnya Continuous Improvement atau Kaizen dalam TQM, sehingga akan menghasilkan kualitas yang berkesinambungan.

Apakah orang islam tidak boleh melakukan tiindakan perbaikan dengan konsep seperti ini, sebenarnya adalah terletak pada niat dan arah serta definisi kualitas tersebut. Tentunya adalah kewajiban umat muslim melakukan perbaikan berkualitas secara berkesinambungan.

Kandungan2:

Konsep Islam lebih memaknai bukan semata pada kegiatan-kegiatan lahiriah saja, namun pada konteks yang lebih luas dan hakiki yaitu mengarahkan pada Tauhid dengan beribadah kepada Allah, Pada waktu-waktu yang digunakan untuk ibadah ritual atau ibadah Mahdoh, ibadah vertikal, adalah mealakukan berbagai hal termasuk di dalamnya berprofesi dan berniaga serta bersosialisasi disinilah letak penerapan nilai-nilai keimanan (rukun Iman) pada diri seseorang agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, bagi dirinya dan bagi orang lain dan bahkan bernilai ibadah di sisi Allah SWT, dengan meniatkan Lillahi Ta’Ala, untuk mencari rahmat dan RidhoNya.

Terdapat konsep islami adalah Kemanfaatan bagi orang lain, adalah sesuatu yang bernilai, atau merupakan salah satu keuntungan, adalah diimplementasikan pada bisnis & profesi dengan konsep Fokus pada Pelanggan, artinya fokus pada orang lain dengan memberikan kemanfaatan secara maksimal, nilai lebih islaminya adalah bahwa terdapat nilai ibadah didalamnya sehingga adalah bernilai disisi Allah atau bernilai bukan semata di dunia saja.

Kandungan3:

Islam memberikan konsep perencanaan, hal ini termaknai dalam Hari ini lebih baik dari hari kemarin sehingga hari esok adalah lebih baik dari hari ini. Jelas hal ini diimplementasikan dalam bentuk Plan, Do, Check, Action yang berupa siklus dari waktu ke waktu. Agar hari esok lebih baik tentunya dievaluasi kegiatan hari ini dengan menerapkan berbagai ukuran-ukuran, sehingga dibuat perencanaan untuk hari esok, agar hasilnya maksimal. Konsep TQM mengenal slogan “Good Enough is Never Enough”, dalam islam arahnya adalah lebih baik lagi yaitu bukan berarti konsep keserakahan material belaka, karena kemungkinan secara lahiriah terdapat berbagai kegagalan, kesulitan dan cobaan, namun dengan kegiatan yang dilapisi keimanan (Rukun Iman) akan termaknai secara batin, untuk senantiasa berikhtiar dengan tetap memasrahkan hasil pada Allah (Rukun Iman, Qodho dan Qodar) dan dengan keyakinan tersebut bahwa kebaikan atau nilai keuntungannya adalah bernilai secara bathin, Insya Allah.
Wallahu ‘Alam Bishawaab.

0 komentar:

Posting Komentar