Sekarang ini banyak sekali pergunjingan antarumat beragama khususnya Islam dengan Kristen yang saat ini banyak diperdebatkan di dunia maya, entah itu di Facebook, Twitter, maupun jejaring social lainnya. Bahkan acapkali kita menjumpai seorang pengguna akun facebook yang tidak bertanggungjawab memperolok-olokkan nama Islam beserta Nabi Muhammad SAW.
Dari fenomena perdebatan dunia maya yang bahkan sampai terjadi bentrok maupun kasus kriminal terkait Islam dengan agama lainnya, seperti kasus Bom Bali yang menewaskan sekian ratus orang asing khususnya penduduk Amerika yang sebagian besar beragama non Islam, maupun kasus lain yang ujung-ujungnya justru memperburuk citra Islam sendiri dalam kacamata agama lain.
إِنَّهُ مَنْ كَانَ عَلَى يَهُودِيَّةٍ أَوْ نَصْرَانِيَّةٍ فَإِنَّهُ لاَ يُفْتَنُ عَنْهَا ، وَعَلَيْهِ الْجِزْيَةُ
Siapapun yang beragama Yahudi atau Nasrani (berkedudukan sebagai dzimmi), maka dia tidak diganggu untuk melaksankan ajaran agamanya. Mereka dikenakan jizyah.4
Kebanyakan para ahli di Indonesia mencermati tentang konflik antara orang Islam dan Kristen di Indonesia menekankan faktor selain agama untuk menjelaskan konflik tersebut. Misalnya Arifin Assegaf mengatakan konflik di Ambon dan Maluku “sama sekali bukan konflik agama”19 dan Franz Magnis-Suseno SJ menulis “Perang Sipil [di Maluku dan Sulawesi Tengah] bukanlah konflik agama.” Biasanya konflik tersebut dianggap terjadi karena faktor pengaruh sejarah, politik, ekonomi, kebijaksanaan Orde Baru termasuk SARA (Suku Agama Ras Antar golongan) dan transmigrasi yang dijalankan selama Orde Baru.
Fatimah Husein menjelaskan bagaimana sejarah Indonesia mempengaruhi hubungan antara orang Islam dan Kristen sekarang.21 Menurut dia, penjajah Belanda menomorsatukan orang Kristen selama penjajahan Belanda. Orang Kristen diberi lebih banyak kesempatan dan oleh karena itu berhasil dan sampai sekarang menjadi lebih kaya. Dari pemandangan Husein, orang Islam menanggap penjajah Belanda sebagai orang luar yang mau memaksa orang Islam pindah ke agama Kristen. Orang Islam menanggap orang Belanda dan orang pribumi Indonesia yang Kristen sebagai orang yang mengeksploitasi masyarakat Indonesia.
Husein melanjutkan bahasan sampai pada zaman Soeharto. Dia mengatakan hubungan Soeharto dengan masyarakat Tionghoa (yang biasanya diasosiasikan sebagai orang Kristen) juga membuat orang Islam di Indonesia semakin marah, iri dan curiga dengan orang Kristen. Soeharto membuat hubungan akrab dengan usahawan Tionghoa dan memberi lebih banyak kesempatan kepada orang ini tetapi dalam pers dan kepada masyarakat pribumi Soeharto mengkambinghitamkan orang Tionghoa ini. Apalagi, Soeharto pada awal Orde Baru sering menindas dan mendiamkan segi-segi Islam. Karena waktu ini Soeharto dekat dengan orang Tionghoa dan mereka yang makmur, orang Kristen dianggap lebih beruntung dalam Orde Baru.24 Tindakan ini dari Soeharto menambah suasana saling curiga dan saling tidak menyukai antara orang Islam dan Kristen di Indonesia.
Menurut Husein, pengaruh dari zaman Belanda dan Orde Baru keduanya memburukkan hubungan antara orang Kristen dan Islam. Jadi satu faktor yang masih mempengaruhi hubungan antara orang Kristen dan Islam sekarang adalah sejarah. Literatur lain tentang hubungan antara orang Kristen dan Islam menjelaskan sebab-sebab yang memicu konflik antaragama. Selain sejarah, faktor lain yang disebutkan termasuk pembalasan dendam. Misalnya kalau masalah terjadi antara dua orang, tidak karena agama tetapi karena soal lain, dan ternyata satu orang Kristen dan satu orang Islam, ini bisa dianggap oleh masyarakat sebagai penyerangan agama dan pembalasan dendam terjadi terus-menerus.
Faktor lain yang dianggap penting adalah persaingan ekonomi. Persaingan tentang tanah, sumber alam dan pasar pedagangan sudah cukup tinggi dan ini ditambah lagi setelah transmigrasi. Banyak orang dari luar, datang ke satu daerah dan mengambil tanah dan sumber alam yang sudah dimiliki orang lain. Karena orang yang bersaing sering dari agama lain, ketegangan ekonomi ini bisa memicu konflik antara agama.
Konflik di Maluku dan Poso memang berbau agama. Satu laporan dari ‘International Crisis Group’ melaporkan bahwa orang Islam merasa Poso dan Maluku ada potensi untuk menjadi tempat syariat, tempat khusus untuk orang Islam. Mereka juga merasa terancam dari masyarakat Kristen di daerah ini. Tetapi walaupun ketegangan ini memang nyata pemicu konflik sering dari luar. Orang luar yang datang, sering dari jaringan Mujahidin, misalnya Jemaah Islamiyah, Laskar Jihad dan Mujahidin KOMPAS (Komite Aksi Penanggulangan Akibat Krisis) memicu orang daerah itu untuk saling berperang. Pendatang ini biasanya orang fanatik yang sudah pernah ke luar negeri untuk belajar bagaimana bisa menyerang kalau konflik atas nama agama terjadi. Tujuan mereka macam-macam tetapi mereka biasanya mau melindungi masyarakat Islam dari ancaman Kristen. Pendatang ini mengeksploitasikan masyarakat aslinya. Sering masyarakat tersebut ada banyak laki-laki yang kurang dididik, menganggur dan bosan jadi mudah didorong menyerang dengan orang lain.
Faktor dari luar yang juga terkadang disebutkan sebagai pemicu konflik adalah tentara Indonesia. Ini lebih sering waktu zaman Orde Baru tetapi ada juga yang masih menyebutkan faktor militer sebagai faktor konflik antaragama sekarang. Pada zaman Soeharto konflik di Flores dianggap dipicu oleh militer. Militer Indonesia dianggap mau memicu konflik di Flores sehingga mereka dihargai oleh masyarakat Indonesia sebagai sesuatu yang penting sekali dan juga untuk menjadi lebih kuat.
Faktor lain yang disebutkan adalah korupsi dengan pegawai negeri, ketakutan karena kekerasan dan kejahatan yang sering terjadi dan persekutuan suku. Tetapi faktor tersebut diatas – yaitu faktor sejarah, politik, ekonomi, dan faktor dari luar – yang lebih sering dianggap faktor konflik antara agama.
Dialog antariman dianggap satu cara untuk memperbaiki hubungan antara agama dan menghindari konflik antara umat Islam dan Kristen. Dialog dianggap baik karena umat Kristen dan Islam bisa saling menukar pikiran, membahas isu-isu kontroversiil dan lebih dalam mengerti orang beragama lain. Jawa Pos menerbitkan artikel tentang pertemuan Perdana Menteri Belanda dengan pemimpin Nadhatul Ulama dan Muhammadiyah.32 Menurut pendapat PM Belanda “dialog menjadi sangat penting untuk menghapus semua stigmatisasi [buruk tentang Islam]… pemerintah Belanda menilai pentingnya peran Indonesia dalam melakukan dialog antaragama.”
Alexander Downer, Menteri Luar Australia juga sudah pernah mengucapkan betapa penting dialog antariman. Pendapat dia adalah “Dialog antar-agama… akan mampu memberikan semangat bagi upaya untuk memberantas terorisme dan kekerasan…dalam dialog seperti itu…kemitraan dan saling memahami yang muncul dan akhirnya memberikan hasil bagi upaya menciptakan perdamian dan keselarasan di seluruh dunia.”
Jadi yang jelas, hubungan antara umat Kristen dan Islam sangat luas sekali. Pada tingkat global, ditunjukan hubungan tersebut berawal dari pemandangan sejarah, ekonomi, penjelasan konflik dan penghindaran konflik. Pada tingkat Indonesia, dijelaskan konflik antara orang Kristen dan Islam di beberapa daerah di Indonesia, dan melihat bagaimana dialog antariman bisa memperbaiki hubungan antaragama. Jadi tidak seharusnya Islam dan Kristen selalu berseteru sebab semua umat memiliki kebebasan beragaman menurut kepercayaannya masing-masing dan tidak seharusnya suatu kaum memaksakan kehendak agamanya pada kaum lain.
Bahkan ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah pun, ada umat yang sedang berdoa (bukan umat Islam) di tempat peribadatannya, Rasulullah SAW melarang kaum Islam untukm menghancurkan ataupun mengganggu umat tersebut. Rasulullah SAW membiarkan umat tersebut tetap beribadah. Seperti firman Allah SWT dalam QS. Al Hajj ayat 40:
وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا
Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia atas sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah (QS al-Hajj [22]: 40).
Subhanallah….
0 komentar:
Posting Komentar